Tasbih Giok Al-Hikmah  

 

Terus Bekerja Tanpa Mengabaikan Keluarga

 

Dalam sebuah perusahaan, peranan CEO sangatlah krusial. Ia adalah seorang pimpinan yang bertanggung jawab atas kegagalan atau kesuksesan sebuah perusahaan. Operasi, pemasaran, strategi, pendanaan, penciptaan budaya perusahaan, sumber daya manusia, perekrutan tenaga kerja, pemutusan hubungan kerja, penjualan, hubungan masyarakat, dan sebagainya. Semua urusan tersebut umumnya ditangani oleh seorang CEO. Ya, itulah posisi saya selama tiga tahun ini di sebuah perusahaan sepatu terkenal di Bandung.

 

CEO bukanlah posisi yang bisa didapatkan oleh setiap orang, karena itu pula saya tidak ingin menyia-nyiakan posisi saya. Satu tahun pertama saya sangat bersemangat untuk mengambangkan perusahaan ini. Siang dan malam saya habiskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Bagi saya, saya inilah pemimpin yang sejati yang selalu menghabiskan waktu untuk bekerja demi sebuah kesuksesan. Dan semangat saya dalam bekerja semakin meningkat manakala saya tahu bahwa perusahaan ini memiliki kunci sukses yang hebat yakni mereka menyediakan fasilitas ‘plus-plus’ setiap kali ada karyawannya yang bisa melebihi target.

 

Siapa yang tidak bangga dengan posisi seperti ini? Semua rekan saya pun iri dengan kesuksesan saya. Posisi bergengsi, gaji tinggi, ditambah lagi fasilitas ‘plus-plus’ yang selalu diberikan setiap kali saya sukses meluncurkan produk baru ternyata membuat saya terlena dan ‘melupakan’ siapa sejatinya saya ini.

 

‘Melupakan’ bahwa saya ini berasal dari keluarga terhormat di Malang, ‘melupakan’ bahwa dulunya saya ini pernah nyantri di pondok pesantren terkenal di Jawa Timur, ‘melupakan’ bahwa saya sudah memiliki keluarga kecil yang harus saya ayomi lahir dan batin.

 

Hari itu saya pulang malam. Tampak lampu runag tamu masih menyala dan pintu belum terkunci. Saat saya membuka pintu, tampak istri saya tertidur di sofa ruang tamu sambil memeluk Arra, anak saya. Saat saya membangunkan Lina dan menanyakan mengapa mereka tidur di luar, dia menjawab bahwa Arra sedang panas dan terus memanggil-manggil saya. Lina suda membujuk Arra supaya tidur di dalam namun Arra menolak dan meminta menunggu saya di ruang tamu, dan mereka pun akhirnya tertidur.

 

Jujur, menetes air mata saya kala itu. Sejak masuk perusahaan bonafit itu saya memang jarang meluangkan waktu saya unuk anak dan istri saya. Hari minggu yang seharusnya dapat saya gunakan untuk meluangkan waktu bersama mereka pun saya gunakan untuk memikirkan produk-produk baru perusahaan. Saya sadar saya sudah mengabaikan harta yang paling berharga saya, keluarga.

 

Malam itu juga saya memutuskan untuk pulang kerja tepat waktu dan menolak fasilitas ‘plus-plus’ yang disediakan perusahaan. Sayangnya, keesokan harinya saat saya mengutarakan keinginan saya kepada dewan direktur, kesemuanya menolaknya dengan alasan kinerja saya sudah bagus seperti ini. Ditambah lagi fasilitas ‘plus-plus’ yang pastinya akan memberikan dorongan supaya saya tetap semangat dalam bekerja. Namun kecintaan dan rasa bersalah terhadap keluarga kecil saya membuat saya memutuskan untuk resign hari itu juga.

 

Berbekal pengalaman menjadi CEO, saya pun mencoba melamar di perusahaan besar lainnya. Namun satu demi satu perusahaan yang saya masuki, tidak satupun dari mereka yang mau menerima saya. Ternyata dewan direktur merasa sakit hati atas resign-nya saya dari perusahaan mereka sehingga membuat mereka menghubungi semua perusahaan untuk tidak menerima saya. Mereka menyebar fitnah bahwa saya tidak resign melainkan dipecat dari perusahaan karena sering menginap dan membawa perempuan ke perusahaan.

 

Sungguh hal ini sempat membuat saya frustasi. Hampir saja saya mengakhiri hidup karena tidak mampu menopang kebutuhan finansial keluarga. Untung saja saya memiliki istri yang kuat dan hebat. Darinyalah saya dianjurkan untuk membuka perusahaan sejenis.

 

Awal semester pertama, memang saya cukup kerepotan membangun perusahaan ini dari nol. Karyawan saya yang baru dua orang, ditambah lagi modal yang semakin menipis membuat saya sempat berniat menggagalkan produk yang belum launching ini. Saya ingat betul, hari itu saya melaunching produk pertama dalam keadaan finansial yang sangat memprihatinkan. Namun ternyata banyak juga masyarakat yang menyukai produk buatan saya.

 

Saat launching produk pertama itulah, istri saya memberikan sebuah Tasbih Giok Al-Hikmah. Dengan tasbih ini saya memantapkan hati untuk tetap menjalankan perusahaan dengan benar.

 

Syukurlah, tidak lama kemudian ada beberapa investor yang menyukai produk saya dan berniat berinvestasi di perusahaan saya. Saya pun kembali menemukan semangat yang hampir padam. Kini saya bersiap membangun perusahaan dan menciptakan produk yang tidak kalah dengan produk branding lainnya. Jika kondisi tetap stabil, lima sampai sepuluh tahun kedepan saya yakin bisa bersaing dengan perusahaan besar lainnya.

 

Terimakasih istriku, terimakasih anakku, terimakasih Tasbih Giok Al-Hikmah. Kalian membuatku menjadi pemimpin sejati.

 

Satu pesanku bagi Anda yang memiliki posisi penting di perusahaan besar seperti saya dulu : “Cintai perusahaanmu. Cintai pekerjamu. Cintai investormu. Cintai pasanganmu. Cintai suppliermu. Dan yang paling penting adalah cintai keluargamu yang terus mendukungmu setiap hari tanpa mengharapkan imbalan apapun darimu selain kasih sayang yang kamu berikan pada mereka.”

 

Haikal, Jakarta

 

Copyright © Tasbih Giok Al-Hikmah | Pemesanan 0812 1445 9888

Didukung Oleh : Jeng Riska