Tasbih Giok Al-Hikmah  

 

Selamat dari Sabetan Celurit

 

Siang itu, aku masih ingat betul betapa terik matahari mampu menyilaukan pandanganku yang kala itu duduk di halte bus. Agak lama juga aku menunggu bus yang satu ini hingga kulitku yang sebelumnya cukup hitam ini bertambah menjadi hitam kelam bercampur debu-debu jalanan.

Setelah hampir setengah jam menunggu, bus yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku pun segera menaikinya dan mengambil posisi depan dekat pintu yang kebetulan saat itu kosong.

Tak sampai bus berjalan, tiba-tiba segerombolan anak remaja masuk ke dalam bus dari pintu belakang sambil berteriak-teriak sembari mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Sorotan mata mereka berlarian kesana kemari seolah sedang mencari sesuatu. Spontan suara grudak-gruduk dan caci makian yang terdengar sangat lantang itu mengalihkan perhatian seluruh penumpang bus.

Betapa ngerinya pemandangan itu, masing-masing dari mereka yang notabene masih mengenakan seragam sekolah putih biru tua itu justru mengacung-acungkan senjata bak perompak jalanan. Ada yang membawa celurit, pisau lipat, katana, rantai dan sebagainya yang sebenarnya tidak pantas mereka genggam.

Betapa jantungku saat itu berdetak tak karuan. Kugenggam erat-erat Tasbih Giok Al-Hikmah pemberian pak lek yang sebelumnya kulingkarkan di tangan kananku. Sembari menggenggam tasbih, tak henti-hentinya mulutku mengucap doa berharap semuanya akan baik-baik saja.

Ada seorang anak seumuran dengan seragam berbeda yang sebelumnya duduk di kursi bus memasang tampang kaget agak ketakutan dan bergegas keluar. “Itu dia!” Teriak salah satu orang yang menggenggam celurit kepada teman-temannya. Bersamaan dengan itu, teman-teman si anak yang menggenggam berbagai macam senjata tajam itu semakin mengacungkan senjatanya.

Mungkin karena tergesa-gesa, anak yang lari itu terjatuh tepat di samping tempat dudukku. Dia menjadikan kaki kananku sebagai alat bantunya untuk berdiri. Spontan hal itu membuat aku mengangkat kepala dan melihat wajah si anak itu. Raut wajahnya mengguratkan rasa ketakutan yang mendalam, tak beda seperti yang kurasakan saat itu.

Saat anak yang terjatuh itu sudah berdiri penuh, salah satu dari mereka mengayunkan sebuah celurit. Aku melihat orang itu sekilas, namun wajah anak SMP itu tampak beringas seolah sudah terbiasa hidup dalam kekerasan.

Menyadari bukan hanya si anak itu saja yang bisa terkena sabetan celurit itu, tubuhku pun refleks menundukkan kepala. Mataku terpejam dan meringkuk dibalik kedua tanganku yang kuletakkan di atas kepala. “Aaa..!!” Aku pun berteriak keras saat ayunan celurit itu mengenai tangan kananku hingga Tasbih Giok Al-Hikmah yang melingkar di tanganku terputus terkena goresan celurit yang sabetannya berakhir di kepala kursi yang kududuki. Butir-butirnya pun berserakan dalam bus. Saat ku buka mata anak-anak itu sudah berlarian keluar bus.

Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu beralih mendekatiku dan menanyakan keadaanku. Tubuhku yang saat itu gemetaran dengan nafas yang terengah-engah hanya bisa menggelengkan kepala menandakan aku tidak apa-apa sembari mengumpulkan butir tasbih yang berserakan. Aku ingat ada seorang laki-laki setengah baya yang menyatakan ‘wong cuma gitu aja kok diambil lagi’. Namun tak lama berselang beliau malah turut membantuku mengambil butiran tasbih yang berceceran disusul dengan yang lainnya.

Aku ingat betul betapa remehnya aku memandang ucapan pak lek kemarin yang menyatakan Tasbih Giok Al-Hikmah ini bisa melindungiku dari bahaya. Eh, tak lama setelah itu aku justru mengalami peristiwa yang benar-benar membuatku ketakutan. Jika kupikir-pikir untung saja celurit itu nyangkut di tasbih yang kulingkarkan di tanganku, bagaimana jika tidak? Mungkin memang benar ucapan pak lek, jika saat itu aku tidak mengenakan Tasbih Giok Al-Hikmah mungkin saja hari ini aku tinggal nama saja.

Semenjak peristiwa itu aku jadi semakin yakin kalau Tasbih Giok Al-Hikmah ini benar-benar penyelamat hidupku. Memang ada rasa takut saat menaiki bus, namun dengan membaca basmalah dan berbekal tasbih Giok Al-Hikmah yang sudah kurangkai ulang ini pun aku tak takut untuk menggunakan jasa bus sebagai modal transportasiku.

 

Hannah Damia, Jakarta

Copyright © Tasbih Giok Al-Hikmah | Pemesanan 0812 1445 9888

Didukung Oleh : Jeng Riska