Tasbih Giok Al-Hikmah  

 

Jadi Ustadz Beneran

 

Tasbih Giok AL-Hikmah adalah pegangan saya setiap harinya. Sebagai seorang ustadz, wajar jika menjadikan sebuah tasbih sebagai pegangan. Tapi bukan itu alasan saya selalu membawa Tasbih Giok AL-Hikmah kemana pun kaki saya melangkah.

Sejak usia belasan tahun saya sudah terlatih sebagai pencopet khusus metromini. Berbagai kalangan sudah menjadi korban saya. Mulai dari seorang ibu-ibu yang pergi ke pasar hingga seorang pria setengah baya yang berdasi pun pernah menjadi korban saya. Bahkan seseorang yang berpenampilan alim seperti ustadz juga pernah saya copet. Hebatnya, tak pernah sekalipun saya tertangkap setiap kali saya kepergok beraksi. Polisi pun sudah menjadikan saya target, namun setiap kali bertemu polisi, meraka ternyata kalah lincah dengan saya.

Hari itu aksi saya kepergok saat saya merogoh tas seorang mahasiswa. Untuk menghindari amuk massa di tempat, saya pun meloncat dari bus. Sialnya, saya malah mendarat tidak jauh dari pos polisi. Kini jadi polisi yang mengejar saya. Sekuat tenaga saya lari dari kejaran polisi hingga akhirnya saya menemui kerumunan orang di halte yang berdesakan naik turun dari bus. Tanpa pikir panjang, saya pun masuk ke kerumunan orang-orang itu dan masuk ke dalam bus.

Di dalam bus saya duduk berdampingan dengan bapak-bapak, kira-kira usianya sekitar 45 sampai 50 tahunan. Mengetahui bahwa saya terengah-engah, beliau bertanya kepada saya. Saya keceplosan menjawab “saya mau dikeroyok pak.” Kaget dengan jawaban saya beliapun bertanya “kenapa?”. Saya yang sadar baru saja keceplosan mencoba mencari jawaban yang masuk akal. Saat itu saya melihat ada sebuah tasbih berwarna hijau di saku bapak-bapak tersebut. Saya pun terpikir untuk menjawab bahwa saya hampir dikeroyok karena saya mengajar Al-Qur’an kepada salah satu anak kecil di desa mereka. Dan kebetulan mereka beragama non muslim.

Perbincangan panjang pun terjadi di antara kami, dan berakhir dengan sebuah tawaran untuk tinggal di rumah bapak tersebut. Saya yang harus bersembunyi dari kejaran polisi pun mengiyakan saja.

Selama tinggal di rumah pak Shodiqin saya pun bersikap sebagaimana seorang muslim yang taat. Sebagai kedok pertama, saya pun mengenakan baju koko milik pak Shodiqin yang sudah tidak muat lagi dikenakan beliau mengingat kini tubuhnya tumbuh subur. Kedok saya perkuat dengan rajin sholat, bertutur kata sopan, rajin mengaji dan sholat malam, serta membantu pak Shodiqin merawat peternakan sapinya. Benar-benar penyamaran yang perfect.

Keesokan harinya, pak Shodiqin menawari saya untuk mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak di surau selepas sholat Maghrib. Saya pun mengiyakannya untuk memperkuat peranan saya sebagai seorang ustadz yang sebelumnya saya karang. Hal ini tidak sulit bagi saya karena semasa kecil dulu saya pernah belajar membaca Al-Qur’an.

Petang itu, sebelum berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat maghrib, pak Shodiqin memberikan sebuah tasbih pada saya. Saya pun sholat dan mengajar Al-Qur’an dengan melingkarkan tasbih tersebut di pergelangan tangan saya.

Tiga bulan sudah saya tinggal di rumah pak Shodiqin dan mengajar Al-Qur'an. Setiap hari saya berpakaian rapi, mengucapkan kata-kata dengan sopan, sholat lima kali sehari, ditambah lagi harus mengajar Al-Qur’an selepas maghrib. Kebiasaan itu membuat saya merasakan ada sesuatu yang berbeda

Jujur saja, ketika saya sholat kadang bulu-bulu tangan dan kaki berdiri merinding. Saat mengajar Al-Qur’an pun demikian, setiap kali saya membenarkan bacaan anak-anak yang keliru, bulu kuduk saya juga merinding. Apalagi ketika saya berdzikir menyebut nama Allah dengan tasbih pemberian pak Shodiqin, hati ini serasa damai sekali.

Saya seolah merasakan kenyamanan di sana. Saya tidak perlu lagi lirak-lirik mencari mangsa, tak perlu memberikan setoran pada Singa raja, panggilan untuk bos saya, tak perlu lagi mendapat makian atau tendangan dari Singa Raja jika setorannya kurang. Yang pasti, saya tidak perlu kejar-kejaran lagi dengan polisi. Saya pun memutuskan untuk tinggal disana dan segera mencari pendamping hidup seperti yang disarankan pak Shodiqin.

Dari segenap gadis di desa itu memang ada seorang gadis yang saya taksir. Rina, dia adalah anak dari pak lurah. Setiap hari dia menunggui adiknya mengaji, jadi setiap malam saya bisa melihatnya walaupun dari kejauhan. Saran pak Shodiqin membuat saya bertekad untuk menyatakan perasaan saya kepada Rina selepas mengaji esok hari.

Sayangnya, pagi itu ada seorang tamu yang datang ke rumah pak Shodiqin untuk menemui saya. Dia bukanlah seorang polisi melainkan Penyok, teman copet saya dulu. Penyok ditugaskan Singa Raja untuk mencari tahu keberadaan saya hingga akhirnya dia menemukan saya di desa kecil ini. Sialnya, Penyok berniat mengadukan siapa jati diri saya yang sebenarnya kepada pak Shodiqin dan Rina. Saya yang tidak mau masa lalu saya terbongkar pun melawan penyok, hingga akhirnya terjadi adu tonjok dan tendangan di antara kami.

Pak Shodiqin yang mendengar keributan pun segera keluar dari dalam rumah dan melerai kami. Saat itu juga penyok membeberkan jati diri saya. Disana saya tertunduk malu dengan tubuh dan wajah penuh lebam akibat serangan Penyok.

Betapa kagetnya saya kala itu, pak Shodiqin ternyata sudah tahu siapa saya yang sebenarnya ketika kami bertemu di bus untuk pertama kalinya. Pak Shodiqin kenal bahwa orang-orang yang berlari mengejar saya adalah polisi walaupun mereka tidak sedang memakai seragam polisi. Itu karena salah seorang yang berlari mengejar saya adalah adik kandungnya yang berprofesi sebagai polisi. Beliau menyatakan mau menolong saya kala itu supaya saya bisa berubah menjadi orang baik. Dan benar, saya benar-benar sudah tobat.

Satu hal yang mengejutkan saya adalah bahwa tasbih yang selama ini saya pegang ternyata bukanlah tasbih sembarangan. Tutur beliau ini adalah Tasbih Giok Al-Hikmah yang memiliki kekuatan untuk membuat orang menjadi lebih baik, karena itu beliau memberikan Tasbih Giok Al-Hikmah ini untuk saya. Dan terbukti, saya sudah berubah 180 derajat menjadi orang yang baik dan sepenuhnya meninggalkan masa lalu saya yang kelam.

Selepas itu, pak Shodiqin menghubungi adiknya untuk menangkap Penyok. Dari Penyok juga, seluruh kawanan copet di bawah kekuasaan Singa Raja tertangkap, termasuk Singa Raja sendiri.

Sungguh, saya tidak habis pikir mengapa pak Shodiqin berani membawa saya ke rumahnya saat itu. Padahal, beliau tahu bahwa saya bukanlah orang baik. Mengetahui kenyataan itu, saya semakin membulatkan tekad untuk menjadi orang baik sekaligus menjadi ustadz beneran sebagai balasan atas kebaikan pak Shodiqin selama ini.

 

Roy, Cimahi

Copyright © Tasbih Giok Al-Hikmah | Pemesanan 0812 1445 9888

Didukung Oleh : Jeng Riska