Tasbih Giok Al-Hikmah  

 

Hidup Terasa Bagai di Surga

 

Dunia memang kadang menunjukkan ketidakadilannya. Perempuan yang seharusnya disayang-sayang malah sering mendapatkan perlakuan yang kasar dari mertuanya dan saudara iparnya. Tragisnya, perlakuan tidak terpuji itu hanya menghampirinya saat suaminya tidak sedang di rumah.

Mengetahui kedholiman selalu menghampirinya, ia yang memang terlahir sebagai perempuan pendiam lebih memilih tutup mulut dan menyimpan rapat-rapat semua peristiwa tidak mengenakkan itu dalam lubuk hatinya. Hanya air mata yang mengalir deras saat ia bersujud pada Tuhannya, mencoba mengaduh atas ketidakadilan yang diterimanya.

Saat suaminya datang, ia selalu menampilkan wajah yang ceria seolah tidak ada beban dalam benaknya. Saat suaminya ada di sampingnya, ia selalu bersikap manja karena memang hanya suaminya lah di rumah itu yang menyayanginya dengan sepenuh hati. Saat suaminya menggaulinya ia meminta agar lampunya dimatikan supaya lebam-lebam di sekujur tubuhnya tidak tampak oleh suaminya. Saat suaminya hendak berangkat kerja, ia melepasnya dengan sebuah senyuman manis seolah tidak akan ada musibah yang datang ketika suaminya tak di sampingnya.

Perempuan naas itu adalah saya, Laily Imadiena Aghfira. Saya yang hanya lulusan SMA swasta dan belum bekerja malah menyukai seorang dosen lulusan S2 yang sudah matang. Perkenalan pertama saya dengan beliau kala itu terjadi pada tanggal 15 Oktober, dikenalkan oleh teman saya, Syafa. Beliau yang kala itu mencari seorang istri langsung berniat meminang saya. Saya yang memang sudah tertarik dengan beliau pun langsung menerima pinangan beliau tanpa ‘melihat’ apakah saya pantas untuknya ataukah tidak.

Sayangnya, setelah saya diboyong ke rumah mertua saya baru tahu kalau mertua dan saudaranya tidak menyukai saya. Saya paham sepenuhnya, mereka adalah orang-orang berpendidikan dari universitas terkenal sedangkan saya hanya perempuan kampung lulusan SMA. Saudaranya sudah memiliki pekerjaan di perusahaan bonafit sedangkan saya masih pengangguran. Ditambah lagi, satu tahun pasca perikahan, saya masih belum bisa memberikan keturunan. Hal ini semakin membuat saya dipandang sebelah mata di keluarga suami saya.

Saya pun sering mendapat berbagai perlakuan dan kata-kata yang tidak pantas dari mereka. Namun untuk menjaga supaya kondisi rumah tangga saya tetap stabil, saya merahasiakan semua ini dari suami dan keluarga saya. Hingga akhirnya, tangisan saya terdengar oleh orang tua saya. Seketika itu meledak amarah orang tua saya. Saya pun paham, orang tua mana yang tidak sakit hati mengetahui anak perempuannya mendapat perlakuan yang tidak pantas di rumah orang tua suaminya.

Beliau pun memaksa saya pulang saja ke rumah. Namun saya menolak demi menjaga harga dan martabat saya, suami saya, dan keluarga. Bu Lek yang kala itu turut mendengar curahan hati ibu saya memberikan saya Tasbih Giok Al-Hikmah. Saya pun mengamalkan dzikir sesuai panduan yang disertakan.

Alhamdulillah, perlahan namun pasti sikap mereka berubah sedikit demi sedikit. Neraka dunia yang dulunya sering saya tempati kini berubah menjadi surga yang nyaman. Perlakuan dan kata-kata tidak pantas yang dulunya sering terlontar dari mereka pun kini sudah tidak terdengar lagi. Ditambah lagi tiga minggu lalu saya mengetahui dalam rahim saya kini ada seorang malaikat kecil. Betapa bahaganya saya kini. Saya pun semakin gencar mengamalkan Tasbih Giok Al-Hikmah.  Berharap rumahtangga saya selalu damai dan diberkahi Allah. Saya juga mendoakan semoga calon buah hati saya dapat lahir dan tumbuh dengan sehat.

Bagi Anda yang pernah atau sedang merasakan pengalaman sebagaimana yang saya alami dulu, silakan coba Tasbih Giok Al-Hikmah, insyaallah bermanfaat.

 

Fira, Kudus

 

Copyright © Tasbih Giok Al-Hikmah | Pemesanan 0812 1445 9888

Didukung Oleh : Jeng Riska